Lifestyle

Pola Tidur Ekstrim ala Polyphasic Sleep

Pola Tidur Ekstrim ala Polyphasic Sleep

Tidur merupakan hal yang sangat penting bagi setiap makhluk hidup. Setiap manusia membutuhkan paling sedikit 6 jam dari total 24 jam sehari yang digunakan untuk tidur. Tidur bertujuan untuk mengistirahatkan tubuh dan pikiran usai melakukan kegiatan sehari-hari. Selain itu, tubuh juga memasuki fase penyembuhan dan perkembangan sel ketika kita tidur.

Setiap makhluk hidup memiliki kebutuhan waktu tidur yang berbeda. Seperti misalnya Jerapah yang memerlukan kurang lebih 2 jam sedangkan Koala memerlukan 18 jam lebih dalam sehari. Begitupun manusia, kebutuhan tidur bayi, anak-anak dan orang dewasa berbeda. Bayi memerlukan 10 jam, anak-anak 8 jam sedangkan orang dewasa hanya memerlukan sekitar 6 jam per hari.

Kurangnya tidur dapat menyebabkan gangguan kesehatan baik secara sensorik, motorik hingga masalah psikis. Akan tetapi, ternyata ada metode tidur yang unik dan bisa dibilang cuup ekstrim. Sebab pola tidur seperti ini hanya mengharuskan kita istirahat paling lama 20 menit setiap 4 jam dalam sehari. Namun, apakah pola tidur seperti ini berbahaya? Simak artikel di bawah ini.

Mengenal Polyphasic Sleep

Tidur ekstrim ala Polyphasic Sleep
Tidur ekstrim ala Polyphasic Sleep

Polyphasic Sleep merupakan sebuaah metode atau cara mengganti waktu tidur normal kita di waktu lain. Misalkan kita biasa untuk tidur selama 6-8 jam dalam semalam, maka kita bisa menggantinya di waktu normal kita beraktivitas dengan menyisihkan sekitar 20-30 menit. Waktu tidur singkat tersebut kita ulangi hingga 6 kali setiap 4 jam dalam sehari. Terdengar impossible bukan?

Metode seperti ini diyakini dapat mengganti waktu tidur kita yang terpakai untuk begadang. Misalnya disaat kita harus mengerjakan suatu pekerjaan yang dikejar deadline. Atau ketika kita terlibat dalam suatu proyek yang mengharuskan kerja double shift dan sebagainya. Malah secara matematis, kita hanya beristirahat selama 2 jam per hari. Ini tentu membuat kita bisa lebih produktif di sisa 22 jam kita dalam sehari.

Sedikit meragukan memang, apakah benar-benar bisa mengganti jam tidur yang terpakai hanya dengan istirahat sejenak selama 20 menit setiap empat jam? Jawabannya, bisa saja. Sebab ketika tertidur secara normal, otak sebenarnya hanya mendapat sekitar 1 jam waktu optimal untuk beristirahat (sebutannya REM Sleep). Sementara sisanya digunakan untuk proses pertumbuhan sel serta detoksifikasi.

Tips Melakukan Polyphasic Sleeping

Bangun tidur segar usai menjalani Polyphasic Sleep
Bangun tidur segar usai menjalani Polyphasic Sleep

Banyak yang mengatakan bahwa sangat sulit untuk menjalani pola tidur seperti Polyphasic Sleep. Ini dikarenakan karena kita terbiasa untuk tidur panjang dalam satu kali waktu dalam sehari. Tentu bukan hal yang mudah untuk mengubah kebiasaan rutin yang biasa kita lakukan. Berikut adalah tips bagi anda yang ingin mencoba Polyphasic Sleeping:

  • Buat Jadwal
    Misalkan ambil waktu ketika libur semester. Ini membuat anda bebas untuk melatih dan membiasakan teknik tidur polyphasic sleep.
  • Disiplin
    Terus berusaha untuk tidak melanggar peraturan dasar dari Polyphasic Sleep, yaitu oversleep and skip the sleep. Meskipun berat pada awalnya, lama kelamaan anda pasti akan terbiasa.
  • Cari Kesibukan
    Diam saja tanpa melakukan apa-apa ketika kita merasa mengantuk tentu sangat menyiksa. Oleh karena itu, carilah kegiatan yang produktif sambil menunggu waktu untuk istirahat pendek kita.
  • Imbangi Dengan Tidur Normal
    Meskipun anda telaah terbiasa menjalani Polyphasic Sleeping, bukan berarti anda dilarang menjalani pola tidur normal. Sesekali lakukan lah tidur normal 6-8 jam dalam sehari. Penting bukan variasi dalam hidup?

Itu tadi adalah tips bagi anda yang ingin mencoba pola tidur ala Polyphasic Sleep. Sebaiknya konsultasikan dengan ahli kesehatan anda sebelum melakukannya agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan pada kesehatan anda. Selamat mencoba!